IMPLIKASI TEORI BELAJAR SOSIAL KOGNITIF DALAM MENGAJAR TEKNIK AUDIO VIDEO MENGGUNAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN DEMONSTRASI
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap,dan ketrampilan. Menurut Barlow (1985) “Belajar suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif”. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah ..a process of progressive behavior adaptation. Hintzman (1978) dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat Learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behavior. Artinya, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Jadi, dalam pendangan Hintzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Banyak teori belajar yang menginspirasi dan mendasari lahirnya macam-macam strategi pembelajaran yang memuat classical interaction seperti teori behaviorisme, teori kognitivisme, dan teori konstruktivisme. Dilihat dari diterapkannya strategi dan metode pengajaran yang ilmiah, yang mendasarkan pada pemahaman tentang teori-teori pembelajaran dan pertimbangan pendekatan belajar siswa (student learning approach). Pemahaman tentang pengajaran (teaching) juga berkembang, dari teacher centered, yang lebih menekankan pada content oriented, menjadi student centered yang lebih berorientasi pada memfasilitasi terjadinya kegiatan belajar (learning oriented).
Pada makalah ini penulis lebih dalam menjelaskan teori sosial kognitivisme dari Albert Bandura. Teori sosial kognitif menetapkan sebuah kerangka untuk pemahaman, prediksi dan tanggung jawab dari prilaku manusia. Teori ini mengidentifikasi prilaku manusia sebagai interaksi dari faktor perorangan, prilaku dan lingkungan.
Pada makalah ini penulis lebih dalam menjelaskan teori sosial kognitivisme dari Albert Bandura. Teori sosial kognitif menetapkan sebuah kerangka untuk pemahaman, prediksi dan tanggung jawab dari prilaku manusia. Teori ini mengidentifikasi prilaku manusia sebagai interaksi dari faktor perorangan, prilaku dan lingkungan.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana deskripsi teori sosial kognitif?
2. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi aplikasi teori sosial kognitif dalam pembelajaran demonstrasi?
4. Bagimana implikasi teori sosial kognitif dalam pembelajaran demonstrasi?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui lebih mendalam tentang pendekatan teori aspek sosial kognitif dan implikasinya dalam mengajar teknik audio video menggunakan pembelajaran demonstrasi.
II. PEMBAHASAN
A. Deskripsi Teori Sosial Kognitif
Teori sosial kognitif adalah sebuah teori yang memberikan pemahaman, prediksi, dan perubahan perilaku manusia melalui interaksi antara manusia, perilaku, dan lingkungan (Bandura, 1986).
Interaksi antara manusia dan perilakunya melibatkan pengaruh pemikiran dan kelakuan seseorang. Interaksi antara manusia dan lingkungan melibatkan kepercayaan manusia dengan kompetensi secara kognitif yang berkembang dari pengaruh dari dalam lingkungan juga. Yang terakhir, interaksi antara lingkungan dengan perilaku manusia, berkaitan dengan pengaruh perilaku terhadap aspek-aspek dalam lingkungannya dan sebaliknya perilaku yang dipengaruhi lingkungan tersebut.
Menurut Jones pada tahun 1989, fakta bahwa perilaku berubah setiap kali situasi lingkungan berubah tidak menunjukkan bahwa perilaku tersebut dipengaruhi oleh situasi lingkungan, melainkan perilaku tersebut menunjukkan perbedaan-perbedaan situasi tersebut. Jadi terlihat perbedaan ketika stimulus yang sama menghasilkan respon yang berbeda dari orang yang berbeda atau dari orang yang sama dengan waktu berbeda.
Teori sosial kognitif digunakan untuk mengenal dan memprediksi perilaku individu dan grup dan mengidentifikasi metode-metode yang tepat untuk mengubah perilaku tersebut. Teori ini erat kaitannya dengan pembelajaran seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Teori ini menjelaskan bahwa dalam belajar, pengetahuan (knowledge), pengalaman pribadi (personal experience), karakteristik individu (personal characteristic) berinteraksi. Kemudian, pengalaman baru yang terbentuk menjadi evaluasi terhadap perilaku lama. Pengalaman perilaku yang lama akan menuntun pribadi tersebut menginvestigasi masalah-masalah yang muncul pada pengalaman saat ini.
B. Strategi Pembelajaran Demonstratasi
Demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif, sebab membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
Kelebihan dan Kelemahan Metode Demonstrasi
Sebagai suatu metode pembelajaran demonstrasi memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:
1. Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
2. Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
3. Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.
Di samping beberapa kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, di antarannya:
1. Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak.
2. Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah.
3. Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional.
Di samping itu demonstrasi juga memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa.
Langkah-langkah Menggunakan Metode Demonstrasi
Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir.
2. Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan.
3. Lakukan uji coba demonstrasi.
3. Lakukan uji coba demonstrasi.
Tahap Pelaksanaan
Langkah pembukaan.
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya:
- Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
- Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
- Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
Langkah pelaksanaan demonstrasi.
- Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir, misalnya melalui pertanyaanpertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi.
- Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan.
- Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa.
- Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.
Langkah mengakhiri demonstrasi.
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, ada baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aplikasi Teori Sosial Kognitif dalam
Pembelajaran Demonstrasi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam aplikasi dari teori ini, faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi itu adalah :
1. Perhatian (Attention), mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan, keterlibatan perasaan, tingkat kerumitan, kelaziman, nilai fungsi) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera, minat, persepsi, penguatan sebelumnya).
2. Penyimpanan atau proses mengingat (Retention), mencakup kode pengkodean simbolik, pengorganisasian pikiran, pengulangan simbol, pengualangan motorik.
3. Reproduksi motorik (Reproduction), mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
4. Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri (Motivation).
Selain itu juga yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata, tanda atau gambar dari pada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). Sebagai contoh: belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsungditirukan oleh siswa pada saat itu juga. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video, gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan.
2. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
3. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.
C. Implikasi Teori Sosial Kognitif dalam Pembelajaran Demonstrasi
Menurut Bandura (1986), proses mengamati dan meniru perilaku, sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori belajar dari Bandura ini tampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial, komunikasi, informasi dan instruksional di lingkungan formal maupun informal.
Bandura mengusulkan tiga macam pendekatan treatment, yakni :
1. Latihan Penguasaan (desensitisasi modeling): mengajari klien menguasai tingkahlaku yang sebelumnya tidak bisa dilakukan (misalnya karena takut). Tritmen konseling dimulai dengan membantu klien mencapai relaksasi yang mendalam. Kemudian konselor meminta klien membayangkan hal yang menakutkannya secara bertahap. Misalnya, ular, dibayangkan melihat ular mainan di etalase toko. Kalau klien dapat membayangkan kejadian itu tanpa rasa takut, mereka diminta membayangkan bermain-main dengan ular mainan, kemudian melihat ular dikandang kebun binatang, kemudian menyentuh ular, sampai akhirnya menggendong ular. Ini adalah model desensitisasi sistemik yang pada paradigma behaviorrisme dilakukan dengan memanfaatkan variasi penguatan. Bandura memakai desesitisasi sistematik itu dalam fikiran (karena itu teknik ini terkadang disebut; modeling kognitif) tanpa memakai penguatan yang nyata.
2. Modeling terbuka (modeling partisipan): Klien melihat model nyata, baisanya diikuti dengan klien berpartisipasi dalam kegiatan model, dibantu oleh modelnya meniru tingkahlaku yang dikehendaki, sampai akhirnya mampu melakukan sendiri tanpa bantuan.
3. Modeling Simbolik; Klien melihat model dalam film, atau gambar/cerita. Kepuasan vikarious (melihat model mendapat penguatan) mendorong klien untuk mencoba/meniru tingkahlaku modelnya.
Aplikasi dari teori ini berlaku untuk setiap proses pembelajaran. Misalnya belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsung ditirukan oleh siswa pada saat itu juga. Pendekatan seperti ini dengan cara modeling terbuka. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video, gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan. Sedangkan untuk hal ini termasuk tritmen dalam pendekata modeling simbolik. Jadi dalam teori ini mengutamakan proses belajar dengan cara meniru dan mempraktekan langsung.
Dalam aplikasi di tempat kerja dengan pendekatan teori ini bisa dilakukan oleh trainer pada saat melakukan training mengenai cara pengoperasian suatu alat ataupun pemakaian APD. Trainer bisa memberikan contoh sambil mempraktekan atau mengsimulasikan materi tersebut sehingga para pekerja bisa langsung meniru gerakan-gerakan yang dilakukan oleh trainer.
Selain itu perlu juga ditayangkan dalam bentuk media yang lainnya seperti slide show ataupun video sehingga mereka mendapatkan contoh yang lainnya serta dapat pula diberikan refrensi lain dalam bentuk media cetak seperti booklet atau leaflet.
Individu tersebut akan lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya, dalam pengaplikasiannya terkadang individu bersifat tidak mengacuhkan materi yang berikan sehingga dalam hal ini bisa dilakukan beberapa cara agar individu atau pekerja tertarik untuk meniru gerakan tersebut. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjadikan salah satu dari individu tersebut untuk menjadi model ataupun bisa membawakan model dari tokoh terkenal sehingga individu tadi merasa ingin meniru dan menerapkan hal-hal yang disampaikannya. Hal ini dilakukan karena individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai manfaat.
Contoh penerapan teori belajar sisi lainnya adalah dalam iklan televisi. Iklan selalu menampilkan bintang-bintang yang popular dan disukai masyarakat, hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun supaya mempunyai kulit seperti para "bintang" atau minum obat masuk anginnya "orang pintar".
Namun dalam pengaplikasiannya ada beberapa dampak buruk dari pendekatan modeling terbuka dan juga simbolik yang secara tidak sengaja itu akan muncul dalam benak individu. Misalnya adegan kekerasan pada media televisi, ataupun video. Sebagian kecil orang yang sering menonton adegan kekerasan maka akan terpengaruh untuk menjadi lebih agresif disbanding orang yang tidak menonton film atau video tersebut.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Mata Pelajaran : Teknik Audio Video
Kode Mata Pelajaran : AV-MR.TV. 006.A
Kelas/Semester : XII / 5
Pertemuan ke : 1
Alokasi Waktu : 5 x 45 Menit
Standar Kompetensi : Memperbaiki / Reparasi Televisi
Kompetensi Dasar : Mempersiapkan Pekerjaan Perbaikan / Reparasi
I. Tujuan Pembelajaran :
a. Siswa dapat mengetahui keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel reparasi
b. Siswa dapat mengetahui spesifikasi dan cara kerja TV
II. Materi Ajar :
- Keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel reparasi
- Spesifikasi dan cara kerja TV
III. Metode Pembelajaran :
- Ceramah
- Tanya jawab
- Praktek
IV. Langkah – Langkah Pembelajaran :
A. Kegiatan awal :
1. Absensi
2. Mengkondisikan Siswa dan Kelas
3. Melakukan apersepsi
4. Menyampaikan materi
B. Kegiatan inti :
1. Menguraikan sistematika pembelajaran baru
2. Menjelaskan materi meliputi :
a. Menjelaskan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel reparasi
b. Menjelaskan spesifikasi dan cara kerja TV
C. Kegiatan akhir :
1. Mendiskusikan materi
2. Menyimpulkan/rangkuman pembelajaran
3. Menyampaikan topik materi yang akan datang
4. Menutup kegiatan pembelajaran dengan berdo’a bersama
V. Alat/Bahan/Sumber Belajar :
a. TV, AVO dan Pralatan
b. Petunjuk Praktek TV
VI. Penilaian :
a. Tes Tulis
b. Tes Praktek
Mengetahui : | Kayuagung, 05 Januari 2011 | |
Kepala Sekolah, | Guru Mata Pelajaran, | |
Drs. MARLIAN, MM. | ALWIN KARNEJI, S.Pd | |
NIP. 196503091990011004 | NIP. 197712142008011003 | |
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori sosial kognitif dari Bandura telah menjelaskan bagaimana suatu proses belajar dengan cara meniru dan juga terjadi interaksi timbal balik antara faktor lingkungan, personal dan sikap. Ketiga faktor ini saling berinteraksi dan memiliki hubungan yang sangat erat. Apabila terjadi suatu perubahan dari suatu faktor tersebut maka akan membuat perubahan pada faktor yang lainnya juga.
B. Saran
Dalam menyampaikan suatu materi dibutuhkan beberapa metode dan cara-cara sekaligus Untuk menerapkan teori belajar ini direkomendasikan kepada orang yang memiliki tipe learning kinestetik, yaitu cara menyampaikan materi belajar secara gerakan-gerakan dan verbal. Selain itu yang dijadikan sebagai model dalam simulasinya adalah orang-orang yang cukup dikenal atau mendapat penilaian postif oleh pendengar atau penonton.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A,& Widodo, S. (1991). Psikologi pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Bandura, A. (1977). Social learning theory. New York: General Learning Press.
Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Barlow, D.L. (1985). Educational psychology: The teaching-learning process.
Chicago: The Moody Bible Institute
Bjorklund, D.F. (2000). Children's thinking: Developmental function and individual
differences. (3rd ed.). Bellmont, CA : Wadsworth.
Bruno. (2010). Belajar dan pembelajaran. Bandung: Kalam Mulia.
Hintzman, D.L. (1978). The psychology of learning and memory. San Francisco:
W.H. Freeman& Company.
Sadikin, A. (2009). Ranah kognitif, Afektif dan psikomotor. Jakarta: Pt. Grafisindo.
Gumgum, G. Teori Belajar Sosial dari Albert Bandura. http://www.gumilarcenter.com/arsipartikel/teoribelajarsosial.html di download pada tanggal 14 Desember 2011.
Social Cognitive Theory. http://www.idea.org/page110.html. di download tanggal 10 maret 2009
SocialCognitiveTheory.http://www.cw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/Health%20Communication/Social_cognitive_theory.doc/ didownload tanggal 14 Desember 2011.
Teori Sosial Bandura. http://alfaned.blogspot.com/2008/09/bab-2-teori-sosial-bandura.html di download tanggal 14 Desember 2011.





