Minim perhatian pemerintah, tiga guru untuk enam kelas. Gedung sekolah berdinding papan,bercat merah dan terletak di sebuah bukit.Pagarnya terbuat dari kayu buah berlilitkan tali rotan mengelilingi halaman Sekolah Dasar Inpres Kurima.Pukul 12.00 siang,semilir angin kurima ikut mengibarkan sang Merah Putih pada seutas tali. suasana siang itu sepi.Di depan teras sekolah berlantaikan tanah, empat orang anak sedang bermain kelereng.
Pintu Kantor sekolah terbuka. Kepala sekolah, Lewi Asso, siang itu hendak menuju ke Kota Wamena untuk membeli buku raport anak didiknya. SD Inpres Kurima Kabupaten Yahukimo memiliki 253 murid dan memiliki 14 Guru tetap.
Walaupun sekolah masih berlantai papan murid sekolah ini tetap belajar dengan semangat.Yang terpenting bagi Lewi Asso bagaimana agar anak didiknya bisa mendapatkan pendidikan formal, dan niatnya tersebut mendapat dukungan dari orangtua murid yang kini sangat sadar akan pentingnya pendidikan kepada anak-anak mereka. Hal ini terlihat dari betapa antusiasnya anak-anak yang berasal dari Kampung Kilise, dan beberapa kampung di sebelah Sungai Baliem saat datang untuk belajar.
SD Inpres Kurima berdiri sejak 1975. Kondisi sekolah cukup baik walalupun menggunakan papan dan berlantaikan semen yang sudah hancur sehingga menyisahkan tanah bercampur semen. Sejak dirikan hingga saat ini, SD Inpres Kurima belum pernah di renovasi.Sementara Dana Bantuan Oprasional sekolah(BOS)yang sering diterima setiap tiga bulan untuk SD Inpres Kurima hanya sebesar Rp 27 juta dan digunakan secara rutin untuk membeli kebutuhan murid seperti buku pelajaran, alat peraga dan seragam putih merah maupun pramuka.
Buku-buku mata pelajaran yang dibeli di Kota Wamena cukup mahal, contohnya buku Matematika, harga per satu bukunya mencapai Rp 75 ribu.Sedang harga buku-buku panduan bagi guru sedikit dikeluhkan kepala sekolah karena terlalu mahal.
Yang menjadi kendala, mayoritas guru yang mengajar di sekolah ini tinggal di Kota Wamena,”Jika turun hujan, mereka tidak bisa datang mengajar akibat luapan sungai Yetni,” kata Asso. Jika banjir, jembatan penyebrangan yang terbuat dari dua batang kayu buah, hanyut akibat derasnya sungai. Banjir air bercampur lumpur dan bebatuan besar membuat segala aktifiktas penyeberangan dari Wamena menuju Kurima dan sebaliknya lumpuh total.
“Kalau sudah seperti ini saya dan Pak Pilipus,bertangung jawab untuk enam kelas,kami bagi tiga-tiga kelas,” ujar Kepala sekolah.
Dirinya berharap agar kedapan ada perhatian dari pemerintah kabupaten maupun provinsi terhadap guru-guru sekolah ini. “Kami membutuhkan rumah dinas guru, agar para guru bisa tinggal di Kurima dan terus mengajar dalam kondisi apapun,” kata kepala sekolah yang telah 27 tahun mengajar di SD ini. Saat ini hanya tersedia dua rumah, satu ditempati kepala sekolah dan satulagi rumah pribadi Matuan.
Lain halnya dengan sekolah dasar di Kampung Syokosimo. Kampung yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Kurima ini harus dicapai dengan melalui Sungai Mugi.Dinding SD YPK Kanaan yang terbuat dari papan itu nyaris termakan rayap. Murid SD YPK Kanaan belajar dengan beralaskan anyaman tali rotan yang dibentuk menyerupai tikar di ruangan berukuran 5 x 8 meter.
Meja dan kursi,papan tulis hanya dinikmati murid kelas 5 dan 6. Walaupun dengan kondisi demikian, telah mengantarkan Pinus Asso,18 tahun, mantan SD YPK Kanaan duduk di kelas 3 SMU Negeri 2 Kurima.
Putra asal Kampung Syukusimo setiap harinya harus berjalan kaki selama 3 jam untuk mencapai SMAnya di Kurima.”Sa sudah biasa dari SMP saya sekolah di Kurima dan SMA sa tetap pulang pergi dari Kampung Syokosimo ke Kurima,” katanya sambil tersenyum.
SD milik Yayasan Pendidikan Kristen ini nyaris tidak mendapat perhatian dari pemerintah maupun YPK sebagai pemiliknya. Kepala sekolah SD YPK Kanaan,Thomas Siep,Jumat, 25 November lalu saat ditemui Suara Perempuan Papua ruang kelas, ia tengah mengisi raport hasil ujian murid. ”Saya kerja di sini karena kami tidak ada kantor khusus untuk guru” katanya.
SD YPK Kanaan hanya memiliki tiga ruang kelas.Dari tiga ruangan itu,satu ruangan biasa dipakai untuk dua kelas,misalnya kelas satu dan dua,kelas tiga dan empat,lima dan enam. SD YPK Kanaan tidak hanya kekurangan ruangan kelas,tetapi enam kelas ini diajar oleh tiga guru termasuk kepala sekolah. Seorang guru tetap ditambah dua guru bantu(honor),tiga guru merangkap mengajar dua kelas.
Keterisolasian kedua sekolah ini ditambah dengan minimnya perhatian Pemerintah terkait kebutuhan pendidikan mulai dari sarana hingga prasarana,membuat Alpius Matuan, 56 tahun yang telah 23 tahun mengajar bermimpi jika suatu saat nanti ada guru-guru muda yang menggantinya.”Apakah karena kami berada di daerah yang jauh dari akses jalan,baik udara maupun darat,membuat kami terus belajar dengan kekurangan dari tahun ke tahun” katanya dengan mata berkaca-kaca.
”Sekolah kami begini-begini saja,meski ada bantuan dana BOS. Tahun ini SD YPK Kanaan menerima Rp 22 Juta.Rp 22 juta, tapi masih harus dipotong ongkos pesawat karena harus diambil di Dekai,” katanya. Sisa dana tersebut baru digunakan untuk melengkapi kekurangan seperti inventaris sekolah,buku tulis, pensil, bolpen,pengaris dan penghapus dibagikan kepada 118 murid. Semua barang ini dibeli di Kota Wamena, lalu dibawa dengan berjalam kaki menuju Syokosimo. Para guru masih harus mengeluarkan ongkos pikul barang yang dibeli oleh mereka.
Ia mengharapkan, kedepan Dana BOS yang ditujukan kepada sekolah yang berada di daerah yang belum terjangkau akses transportasi darat,supaya bisa ditambahkan biaya transportasi mengingat kondisi serta medan yang cukup jauh.
Belajar dalam kekurangan,tak menyurutkan semangat ketiga guru ini untuk tetap mengajar. Setiap harinya murid SD YPK Kanaan tetap masuk pukul 08.00. Bukan saja karena suhu yang dingin,tetapi juga karena sebgian siswa SD ini berasal dari beberapa kampung lain, misalnya kampung Jibiroma,Wuserem dan beberapa kampung lain yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam berjalan kaki.
Sumber : http://suaraperempuanpapua.org







0 komentar:
Posting Komentar